Program Perkuliahan Karyawan
UNIVERSITAS DARUL ULUM ISLAMIC CENTRE SUDIRMAN GUPPI

UNIVERSITAS DARUL ULUM ISLAMIC CENTRE SUDIRMAN GUPPI

UNDARIS
Karier dan Pendidikan

Ciri-ciri Pengajar Agama Siap Melanjutkan Kuliah Jurusan S1 Pendidikan Agama Islam

Kenali tanda pengajar agama siap kuliah S1 Pendidikan Agama Islam lewat RPL, dari menata pengalaman mengajar hingga menyiapkan studi sambil bekerja.

Ciri-ciri Pengajar Agama Siap Melanjutkan Kuliah Jurusan S1 Pendidikan Agama Islam

Mengajar agama membuat seseorang belajar banyak dari pengalaman.

Ada materi yang perlu disiapkan.

Ada peserta didik yang membutuhkan penjelasan berbeda.

Ada kegiatan pembelajaran yang perlu dievaluasi.

Ada pula pengalaman tertentu yang akhirnya mengubah cara kamu mengajar.

Semakin lama mendampingi pembelajaran, biasanya semakin banyak hal yang mulai dipahami.

Kamu mengetahui cara menyusun materi.

Mulai mengenali bagian yang sering sulit dipahami peserta didik.

Dan semakin terbiasa memperbaiki pembelajaran setelah melihat respons mereka.

Namun, setelah pengalaman tersebut semakin banyak, pertanyaan berikutnya dapat muncul.

Apakah pengalaman mengajar yang selama ini dijalani dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju pendidikan S1?

Pengalaman apa yang sebaiknya mulai dirapikan?

Bagaimana menjelaskan pembelajaran yang diperoleh dari pekerjaan?

Apa yang masih perlu dipelajari meskipun sudah mempunyai pengalaman mengajar?

Bagi pengajar agama yang mempertimbangkan jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau atau RPL, pertanyaan tersebut cukup penting.

Kesiapan melanjutkan S1 Pendidikan Agama Islam tidak hanya terlihat dari berapa lama seseorang mengajar.

Salah satu tandanya justru ketika kamu mulai mampu merapikan pengalaman pendidikan Islam untuk didiskusikan melalui proses RPL, sambil tetap mempunyai tujuan belajar yang jelas.

 

Saat pengalaman mengajar mulai menuntut pemahaman yang lebih dalam

Coba ingat kembali beberapa kegiatan pembelajaran yang pernah kamu lakukan.

Mungkin kamu sudah terbiasa menyiapkan materi.

Mengajar.

Mendampingi peserta didik.

Mengubah cara menjelaskan ketika mereka belum memahami.

Atau mengevaluasi kegiatan setelah pembelajaran selesai.

Selama ini, semua aktivitas tersebut mungkin dianggap sebagai bagian biasa dari pekerjaan.

Namun, ketika mulai mempertimbangkan kuliah melalui RPL, cara melihat pengalaman dapat berubah.

Apa yang sebenarnya sudah saya pelajari?

Bagaimana cara mengajar saya berkembang?

Kemampuan apa yang sekarang sudah lebih baik dibanding ketika pertama mulai mengajar?

Apa bukti yang dapat menjelaskan pengalaman tersebut?

Pertanyaan seperti ini menunjukkan satu perubahan penting.

Kamu tidak hanya mengatakan:

“Saya sudah lama mengajar agama.”

Kamu mulai mampu menjelaskan:

“Ini pengalaman yang saya miliki, ini yang saya pelajari, dan ini bagian yang masih ingin saya kembangkan melalui pendidikan S1.”

 

Kamu mulai merapikan pengalaman pendidikan Islam yang pernah dijalani

Pengalaman mengajar biasanya cukup luas.

Ada kegiatan yang dilakukan rutin.

Ada pelatihan.

Ada tugas tertentu.

Ada pula pengalaman mendampingi peserta didik dalam kondisi berbeda.

Mulailah memisahkannya.

Misalnya kamu pernah:

menyusun materi pembelajaran;

mengajar materi agama;

mendampingi perkembangan peserta didik;

mengevaluasi kegiatan pembelajaran;

mengikuti pelatihan;

atau menjalankan aktivitas lain yang memang berkaitan dengan pendidikan Islam.

Kemudian tuliskan secara sederhana.

Contohnya:

Pengalaman: menyusun materi pembelajaran agama.

Aktivitas: memilih materi, membuat urutan pembahasan, dan menyesuaikan penjelasan dengan peserta didik.

Yang dipelajari: pentingnya struktur materi dan contoh yang mudah dipahami.

Bukti yang tersedia: tuliskan dokumen yang memang kamu miliki dan dapat digunakan sesuai ketentuan.

Tidak perlu menentukan sendiri apakah pengalaman tersebut nantinya akan diakui.

Tahap awalnya adalah membuat pengalaman menjadi lebih jelas.

 

Kamu mulai membedakan pengalaman dengan bukti pengalaman

Mengatakan pernah mengajar tentu berbeda dengan menunjukkan pengalaman secara lebih konkret.

Misalnya:

“Saya sudah mengajar agama selama beberapa tahun.”

Pernyataan tersebut memberikan konteks.

Namun, kamu dapat mulai membuatnya lebih terstruktur.

Materi apa yang pernah diajarkan?

Siapa peserta didiknya?

Apa tanggung jawabmu?

Apa perubahan kemampuan yang terjadi?

Bukti apa yang dimiliki?

Bentuk bukti yang dapat diterima tetap mengikuti ketentuan asesmen RPL.

Karena itu, langkah yang lebih aman adalah mulai menginventarisasi dokumen yang memang tersedia.

Misalnya surat pengalaman kerja.

Uraian tugas.

Sertifikat pelatihan.

Bahan pembelajaran yang memang boleh digunakan.

Atau bukti lain yang relevan.

Daftar tersebut kemudian dapat dibawa ketika berkonsultasi mengenai jalur RPL.

 

Kamu mulai melihat pengalaman mengajar sebagai proses pembelajaran

Salah satu hal penting ketika mempertimbangkan RPL adalah melihat bahwa pekerjaan juga dapat menghasilkan pembelajaran.

Misalnya pada awal mengajar kamu kesulitan membuat materi sederhana.

Setelah beberapa waktu, kamu semakin mampu memilih contoh yang sesuai.

Dulu kamu mungkin lebih banyak berbicara.

Sekarang lebih memahami pentingnya mendengarkan pertanyaan peserta didik.

Dulu kamu hanya menyelesaikan materi.

Sekarang mulai mengevaluasi apakah pembelajaran benar-benar dipahami.

Perubahan tersebut menunjukkan adanya proses belajar.

Coba pilih satu kemampuan yang sekarang terasa cukup familiar.

Kemudian tanyakan:

Dulu saya belum mampu apa?

Apa yang saya pelajari melalui pengalaman?

Bagaimana cara kerja saya berubah?

Apa bukti yang dapat membantu menjelaskan perkembangan tersebut?

Dari sana, pengalaman mulai terlihat sebagai sesuatu yang lebih terstruktur.

 

Kamu mulai bisa menjelaskan tujuan melanjutkan S1

Kesiapan kuliah juga terlihat dari alasan yang semakin jelas.

Bukan hanya:

“Saya membutuhkan gelar S1.”

Tetapi:

“Saya ingin melengkapi pengalaman di bidang pendidikan Islam dengan pendidikan S1 yang relevan.”

Atau:

“Saya ingin melihat apakah pembelajaran dari pengalaman mengajar dapat dinilai melalui RPL, sekaligus memperdalam ilmu keislaman dan cara mengajarkannya.”

Tujuan seperti ini cukup penting.

Ada pengalaman yang ingin dibawa ke proses asesmen.

Namun, tetap ada pengetahuan baru yang ingin dipelajari.

RPL tidak membuat proses belajar kehilangan makna.

Pengalaman menjadi titik awal untuk melihat apa yang sudah dipahami dan apa yang masih perlu dikembangkan.

 

Kamu mulai mengetahui bagian mengajar yang masih ingin dikembangkan

Pengalaman panjang tidak berarti seluruh aspek pendidikan sudah dikuasai.

Mungkin kamu cukup familiar dengan penyampaian materi.

Namun, masih ingin memperkuat penyusunan pembelajaran.

Mungkin sudah terbiasa mendampingi peserta didik.

Tetapi ingin mengembangkan komunikasi yang lebih baik.

Atau kamu ingin memperdalam dasar materi keislaman tertentu.

Buat dua bagian:

Sudah banyak saya lakukan

dan

Masih ingin saya pelajari.

Misalnya:

Sudah familiar: menyiapkan materi pembelajaran.

Masih ingin dipelajari: menyusun pembelajaran secara lebih terstruktur.

Atau:

Sudah familiar: menjelaskan materi agama.

Masih ingin dipelajari: mengembangkan keterampilan mengajar.

Pemetaan seperti ini membantu menjaga tujuan kuliah tetap kuat, meskipun kamu sudah mempunyai pengalaman.

 

Kamu mulai menghubungkan pengalaman dengan bidang yang dipelajari

Program S1 Pendidikan Agama Islam UNDARIS dalam sumber mempelajari ilmu keislaman dan cara mengajarkannya.

Sekarang coba hubungkan dengan pengalamanmu.

Apakah kamu sudah sering menyiapkan materi?

Apakah kegiatan mengajar menjadi bagian utama pekerjaan?

Apakah pernah melakukan evaluasi pembelajaran?

Bagian mana dari pengalaman tersebut yang paling ingin diperdalam?

Kamu dapat mempelajari S1 Pendidikan Agama Islam UNDARIS sambil membuat catatan.

Tujuannya bukan menentukan sendiri hasil RPL.

Tujuannya adalah mempersiapkan diskusi yang lebih terarah saat berkonsultasi mengenai program.

 

Kamu mulai menata pengalaman satu per satu

Daripada mencoba mengingat seluruh pengalaman sekaligus, susun berdasarkan aktivitas.

Contohnya:

Aktivitas: mengajar materi agama.

Yang dilakukan: menyiapkan materi, menyampaikan pembahasan, dan mendampingi peserta didik.

Yang dipelajari: cara menyederhanakan penjelasan.

Bukti yang tersedia: tuliskan bukti yang memang dimiliki.

Lanjutkan dengan pengalaman lain.

Misalnya:

menyusun bahan ajar;

melakukan evaluasi;

mengikuti pelatihan;

mendampingi kegiatan pendidikan;

atau pengalaman lain yang relevan.

Kerapian tersebut membantu ketika pengalaman perlu dijelaskan kepada pihak lain.

 

Kamu mulai mengumpulkan bukti secara rapi

Jika sudah mengetahui pengalaman utama, kamu dapat mulai menata bukti yang tersedia.

Buat folder sederhana.

Misalnya:

Pengalaman kerja

Pelatihan

Sertifikat

Uraian tugas

Bahan pembelajaran yang boleh digunakan

Bukti lain yang relevan

Berikan nama file yang mudah dipahami.

Tambahkan tahun bila perlu.

Tujuannya bukan mengumpulkan sebanyak mungkin dokumen.

Yang lebih penting adalah membuat pengalaman lebih mudah ditelusuri dan dijelaskan.

 

Kamu mulai memperhatikan kerahasiaan dan izin penggunaan dokumen

Dalam pekerjaan pendidikan, tidak semua dokumen boleh dibagikan begitu saja.

Ada informasi lembaga.

Ada data peserta didik.

Ada dokumen internal.

Karena itu, jangan langsung menggunakan seluruh dokumen sebagai bukti.

Catat terlebih dahulu jenis pengalaman yang ingin ditunjukkan.

Kemudian tanyakan kepada pihak yang menangani RPL mengenai bentuk bukti yang dapat digunakan sesuai ketentuan.

Kerapian administrasi tetap perlu berjalan bersama tanggung jawab profesional.

 

Kamu mulai menerima bahwa pengalaman tidak otomatis menentukan hasil asesmen

Pengalaman merupakan modal penting dalam jalur RPL.

Namun, sumber tidak memberikan ketentuan bahwa lama mengajar tertentu otomatis menghasilkan pengakuan tertentu.

Karena itu, pendekatan yang lebih realistis adalah:

“Saya akan merapikan pengalaman dan bukti yang relevan, kemudian mengikuti asesmen.”

Bukan:

“Karena sudah mengajar lama, berarti pasti mendapatkan pengakuan tertentu.”

Proses asesmenlah yang nantinya menentukan pengakuan pembelajaran dan beban studi sesuai ketentuan program.

Sikap seperti ini membantu menjaga ekspektasi tetap realistis.

 

Kamu mulai terbuka untuk kembali belajar dari dasar

Sudah mempunyai pengalaman mengajar bukan berarti semua materi akan terasa mudah.

Perkuliahan tetap membutuhkan proses belajar.

Ada bacaan.

Ada diskusi.

Ada tugas.

Ada umpan balik.

Ada pula konsep yang mungkin belum pernah dipelajari secara formal.

Kesiapan terlihat ketika kamu bersedia kembali belajar.

Bukan karena pengalamanmu tidak cukup.

Justru karena pengalaman tersebut dapat menjadi konteks untuk memahami materi baru.

 

Kamu mulai memperkuat komunikasi

Data program menunjukkan komunikasi sebagai salah satu bagian yang perlu diperkuat.

Bagi pengajar, komunikasi tentu sudah digunakan setiap hari.

Namun, masih ada ruang untuk berkembang.

Apakah instruksi cukup jelas?

Apakah peserta didik memahami istilah yang digunakan?

Apakah pertanyaan mereka didengarkan dengan baik?

Apakah contoh yang diberikan cukup membantu?

Kamu dapat mulai mengevaluasi hal sederhana seperti ini.

Kebiasaan tersebut membantu ketika nantinya mempelajari cara mengajar secara lebih terstruktur.

 

Kamu mulai memperkuat dasar materi pelajaran

Pengalaman mengajar dapat membuat materi tertentu terasa familiar.

Namun, ada bagian yang mungkin perlu diperbarui.

Coba buat daftar:

Topik apa yang paling sering diajarkan?

Bagian mana yang sudah cukup kuat?

Topik mana yang perlu dibaca kembali?

Pertanyaan apa yang sering membuatmu perlu mencari penjelasan tambahan?

Daftar tersebut dapat menjadi titik awal kebiasaan belajar.

 

Kamu mulai memperkuat keterampilan mengajar

Selain penguasaan materi, data sumber juga menunjukkan keterampilan mengajar sebagai bagian yang perlu diperkuat.

Kamu dapat memulai dari pengalaman sendiri.

Misalnya setelah mengajar, tanyakan:

Apa tujuan pembelajaran?

Bagian mana yang mudah dipahami?

Bagian mana yang belum efektif?

Bagaimana respons peserta didik?

Apa yang bisa diperbaiki pada pertemuan berikutnya?

Refleksi sederhana seperti ini dapat membantu pengalaman berubah menjadi pembelajaran yang lebih terarah.

 

Kamu memahami hubungan S1 Pendidikan Agama Islam dengan pekerjaanmu

Program S1 Pendidikan Agama Islam UNDARIS mempelajari ilmu keislaman dan cara mengajarkannya.

Bagi pengajar agama, hubungan tersebut cukup dekat dengan pekerjaan sehari-hari.

Kamu sudah menyiapkan pembelajaran.

Mengajar.

Mendampingi peserta didik.

Dan mengevaluasi kegiatan.

Perkuliahan dapat memberi ruang untuk memperdalam pengalaman tersebut secara lebih terstruktur.

Jika sedang mempertimbangkan jalur ini, kamu dapat mempelajari RPL S1 Pendidikan Agama Islam UNDARIS.

Saat melihat informasi program, pisahkan dua hal:

Apa yang sudah saya pelajari melalui pengalaman?

dan

Apa yang masih ingin saya pelajari melalui kuliah?

Dua pertanyaan tersebut membantu menjaga arah proses RPL tetap jelas.

 

Kamu mulai menyiapkan cerita pengalaman secara runtut

Salah satu latihan yang dapat membantu adalah menjelaskan satu pengalaman tanpa terlalu banyak istilah.

Pilih satu kegiatan mengajar.

Kemudian tuliskan:

Apa situasinya?

Apa tugasmu?

Apa yang dilakukan?

Apa yang dipelajari?

Apa perubahan yang terjadi pada cara mengajar?

Bukti apa yang tersedia?

Tidak perlu dibuat seperti tulisan akademik.

Gunakan pengalaman yang memang kamu miliki.

Tujuannya adalah membiasakan diri menjelaskan pembelajaran dari pekerjaan secara runtut.

 

Kamu mulai membangun kebiasaan belajar lagi

Jalur RPL tetap membawa kamu menuju proses pendidikan.

Karena itu, kebiasaan belajar perlu mulai dibangun.

Misalnya:

dua kali seminggu membaca materi;

satu sesi membuat catatan refleksi mengajar;

satu sesi merapikan dokumen pengalaman.

Durasi tidak harus panjang.

Yang penting dilakukan secara konsisten.

Dengan begitu, persiapan asesmen dan persiapan menjadi mahasiswa berjalan bersama.

 

Kamu mulai menyiapkan waktu kuliah akhir pekan

Data program mencantumkan kelas akhir pekan:

Sabtu: 13.00–17.00
Minggu: 09.00–17.00

Perkuliahan menggunakan metode Tatap Muka.

Bagi pengajar yang tetap bekerja, jadwal akhir pekan ini perlu dibandingkan dengan rutinitas nyata.

Apakah Sabtu ada kegiatan mengajar?

Bagaimana dengan Minggu?

Berapa lama perjalanan?

Apakah ada kegiatan keluarga atau aktivitas lain yang selama ini berlangsung pada akhir pekan?

Mulai memeriksa pertanyaan tersebut merupakan bagian dari kesiapan praktis.

 

Kamu mulai melihat konsekuensi kelas tatap muka

Karena metode program tercatat Tatap Muka, persiapan tidak hanya berkaitan dengan waktu kelas.

Ada perjalanan.

Ada waktu berangkat.

Ada waktu pulang.

Ada kebutuhan makan.

Ada energi yang perlu dijaga.

Terutama pada Minggu yang jadwalnya tercatat pukul 09.00–17.00.

Coba buat simulasi satu akhir pekan.

Pukul berapa perlu berangkat?

Kapan kembali?

Kapan tugas dikerjakan?

Kapan waktu istirahat?

Simulasi sederhana membantu melihat apakah rutinitas baru cukup realistis.

 

Kamu mulai menyiapkan biaya pendidikan

Data program mencantumkan:

Biaya formulir: Rp200.000

Herregistrasi: Rp2.200.000

Sehingga total biaya awal sebesar Rp2.400.000.

Tersedia pula simulasi enam kali angsuran sebesar Rp2.200.000 per bulan.

Selain biaya tersebut, kamu dapat memperhitungkan kebutuhan pribadi lain.

Transportasi.

Makan selama kegiatan tatap muka.

Buku atau bahan belajar.

Internet.

Perangkat.

Dan kebutuhan akademik lainnya.

Karena jalur yang digunakan adalah RPL, pertanyaan mengenai asesmen, pengakuan pembelajaran, dan beban studi setelah asesmen juga dapat dibawa ketika berkonsultasi.

 

Kamu mulai menyiapkan dukungan orang di sekitar

Kuliah tatap muka pada akhir pekan dapat mengubah rutinitas.

Waktu yang sebelumnya digunakan untuk pekerjaan tambahan, keluarga, atau kegiatan lain akan sebagian digunakan untuk pendidikan.

Karena itu, komunikasi dengan orang terdekat dapat membantu.

Jika pekerjaan mengajar juga berlangsung pada akhir pekan, pembicaraan dengan pihak yang relevan di tempat kerja mungkin diperlukan.

Tujuannya adalah memahami penyesuaian yang perlu dibuat sejak awal.

 

Empat pertanyaan untuk melihat kesiapanmu

Tidak ada skor tertentu yang menentukan pengajar agama sudah siap melanjutkan S1 Pendidikan Agama Islam melalui RPL.

Namun, empat pertanyaan berikut dapat membantu:

  1. Apakah saya sudah dapat menjelaskan pengalaman pendidikan Islam yang memang saya miliki?
  2. Apakah saya mulai merapikan bukti pengalaman untuk dikonsultasikan dalam asesmen RPL?
  3. Apakah saya masih mempunyai tujuan belajar yang jelas setelah pengalaman mengajar tersebut?
  4. Apakah saya mulai menyiapkan waktu akhir pekan, biaya, dan kebiasaan belajar?

Tidak semua jawabannya harus langsung sempurna.

Kesiapan dapat berkembang bertahap.

Yang penting, pengalaman kerja sudah mulai ditata dan tujuan pendidikan semakin jelas.

 

Pengalaman mengajar dapat menjadi modal menuju RPL

Ketika mempertimbangkan RPL, pengalaman mengajar tidak hanya dilihat dari lamanya seseorang berada di dunia pendidikan.

Yang lebih penting adalah apa yang dipelajari melalui pengalaman tersebut.

Sebagai pengajar agama, kamu mungkin sudah pernah:

menyusun materi;

melaksanakan pembelajaran;

mendampingi peserta didik;

mengevaluasi kegiatan;

atau mengikuti aktivitas pendidikan lain yang relevan.

Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan untuk dipersiapkan dalam proses asesmen.

Namun, hasil pengakuannya tetap mengikuti penilaian.

Karena itu, persiapan terbaik adalah merapikan pengalaman secara jujur, relevan, dan terstruktur.

 

Langkah kesiapan berikutnya bersama UNDARIS

Bagi pengajar agama dan praktisi pendidikan Islam yang ingin melengkapi pengalaman dengan pendidikan S1 sambil tetap bekerja, salah satu program yang dapat dipelajari adalah Kelas Karyawan UNDARIS melalui RPL S1 Pendidikan Agama Islam.

Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam pada data yang tersedia tercatat memiliki akreditasi Baik Sekali.

Institusi Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI juga tercatat berakreditasi Baik Sekali.

Lulusan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.).

Program menggunakan metode Tatap Muka dengan jadwal akhir pekan:

Sabtu: 13.00–17.00
Minggu: 09.00–17.00

Untuk pembiayaan, biaya awal tercatat sebesar Rp2.400.000, terdiri dari formulir Rp200.000 dan herregistrasi Rp2.200.000.

Tersedia pula simulasi enam kali angsuran sebesar Rp2.200.000 per bulan.

Kamu dapat mempelajari bidang studinya melalui Program RPL S1 Pendidikan Agama Islam UNDARIS.

Informasi mengenai kampus dan program lainnya juga tersedia melalui website UNDARIS.

Sebelum mengambil langkah berikutnya, coba buat tabel sederhana dengan empat kolom:

Pengalaman mengajar

Apa yang saya pelajari

Bukti yang tersedia

Hal yang masih ingin saya pelajari

Misalnya:

Pengalaman: menyiapkan dan melaksanakan pembelajaran agama.

Pembelajaran: memahami pentingnya menyusun materi sesuai kebutuhan peserta didik.

Bukti: tuliskan bukti yang memang kamu miliki dan dapat digunakan sesuai ketentuan.

Masih ingin dipelajari: cara mengajar dan dasar pendidikan Islam secara lebih terstruktur.

Lakukan untuk beberapa pengalaman utama.

Kemudian gunakan daftar tersebut ketika mempelajari kembali RPL S1 Pendidikan Agama Islam UNDARIS dan berkonsultasi mengenai proses asesmen.

 

Tanda siap melanjutkan kuliah melalui RPL tidak berarti kamu sudah mengetahui berapa banyak pengalaman yang akan mendapat pengakuan.

Bagi pengajar agama, kesiapan dapat terlihat ketika pengalaman pendidikan Islam mulai dapat dijelaskan dengan jelas, bukti pengalaman mulai dirapikan, tujuan belajar tetap kuat, dan kamu bersedia mengikuti asesmen untuk mengetahui pembelajaran yang dapat diakui.

Pengalaman mengajar selama ini sudah memberikan banyak pembelajaran.

Langkah berikutnya adalah menatanya secara lebih terstruktur dan melihat bagaimana pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju S1 Pendidikan Agama Islam.